Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan ALLAH dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki YESUS dan mengucap syukur kepada-NYA. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu YESUS berkata:"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan ALLAH selain daripada orang asing ini ?"

Lukas 17 : 15-18

Saudara yang terkasih ;

Ketika seorang rektor universitas sedang memberikan kata sambutan di sebuah acara wisuda, dia selalu mengawali kata-katanya dengan memberi penekanan kepada satu pertanyaan besar kepada para wisudawan hari itu. Pertanyaan besar itu berbunyi :”What next?” yang artinya : Setelah ini, apa yang akan kau lakukan? Lulus kuliah adalah satu sukacita besar, tetapi segera setelah itu, akan muncul tantangan baru : apa yang akan kau lakukan?

Saudara, betapa banyaknya mujizat dan pertolongan yang TUHAN beri di sepanjang hidup kita. Contoh yang paling akhir di Gereja kita adalah : banyak kesembuhan, kelepasan dari TUHAN, dan jawaban atau segala masalah, terjadi saat KKR yang baru lalu. Namun pertanyaannya adalah : setelah menerima semua itu, apa yang akan kita lakukan? Merasa lega dan sukacita, lalu menjalani hari-hari kita dengan biasa saja seperti hari-hari yang lalu, atau duduk, berdoa, mengucap syukur sebanyak-banyaknya dan berjanji memberikan yang terbaik untuk TUHAN? Menerima kesembuhan dan segera melupakannya, atau menaikkan ucapan syukur setinggi-tingginya kepada TUHAN? Belum lagi, apakah yang sudah kita berikan kepada hamba TUHAN yang menjadi saluran berkat untuk kita sebagai ucapan terima kasih kepadanya atas doa-doa yang ia panjatkan ? 

TUHAN sudah banyak mengingatkan kita untuk menjadi murid KRISTUS yang pandai mengucap syukur. YESUS sendiri menanyakan kepada seorang kusta yang telah sembuh, kemanakah 9 orang temannya yang lain, yang juga telah sembuh itu? Mengapa hanya ada 1 orang yang kembali dan tersungkur di depan kaki YESUS? 

Jadilah anak-anak TUHAN yang tahu berterima kasih, tahu mengucap syukur dan memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada TUHAN yang telah menolong kita semua… 

 

Ary dan Ester Handoko

Lalu IA berkata lagi :"Camkanlah apa yang kamu dengar ! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu"

Markus 4 : 24

Saudara yang terkasih ;

Ada seorang teman anak kami yang bekerja sebagai dosen di luar kota. Sementara ia bekerja itu, dia hidup sebagai anak kos-kos an yang super ngirit, makan seadanya, pergi ke tempat kerja atau universitas tempat dia mengajar hanya dengan berjalan kaki atau naik sepeda untuk menghemat biaya transportasi. Dengan gaya hidup seperti itu dan gaji seorang dosen universitas ternama di ibukota, tentunya ada uang yang bisa ditabung, dan jumlahnya tidak sedikit. Begitu awal pemikiran anak kami. Tetapi ternyata, seorang yang kenal dekat dengan teman tadi bercerita, bahwa sebagian besar sisa gaji dosen ini ( setelah dipotong biaya sehari-hari selama sebulan), dikirimkan kepada orang tuanya di kampung halaman. Jadi dia sendiri tidak memegang uang banyak. Bagian terbesar diberikan kepada orang tuanya. Betapa mulia ternyata hatinya, mau menyisihkan uang gajinya untuk diberikan kepada orang tua tercinta di kampung. 

Saudara, kita tidak bisa menjudge atau mendakwa seseorang hanya dari yang kelihatan di luar saja. Apa yang nampaknya seperti indah, belum tentu benar-benar indah. Namun sebaliknya, apa yang nampaknya buruk, belum tentu di dalamnya juga buruk. Kasus cerita anak teman kami di atas salah satunya. Awalnya kami pikir dia agak keterlaluan juga pelitnya, bahkan untuk dirinya sendiri pun tidak dia pikirkan. Makanan yang sedikit mahal tidak dibelinya, begitu pula dengan baju dan lain-lain keperluan yang sifatnya konsumtif. Tetapi ternyata, dia punya hati luar biasa yang sangat mencintai orangtuanya.  

Marilah kita tidak dengan mudah mencap seseorang, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lebih jauh lagi, kita juga tidak tahu apa yang dia pikirkan atau rasakan. Ayat di atas kiranya menjadi peringatan buat kita semua. Amin…  

 

Ary dan Ester Handoko

Tetapi TUHAN ALLAH memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya :"Dimanakah engkau?"

Kejadian 3 : 9

Saudara yang terkasih ;

Teman anak kami yang pertama, baru saja diwisuda. Padahal anak kami sendiri sudah wisuda beberapa tahun yang lalu. Bukan itu saja, sebenarnya dia juga berasal dari angkatan yang lebih tua dari dia. Jadi sudah sekitar 7-8 tahun dia kuliah, baru lulus sekarang. Dia tersendat di perkuliahan karena dulu dia menderita sakit lupus, sehingga tidak bisa mengikuti kuliah dengan lancar. Dan dia baru bercerita akhir-akhir ini, bahwa dia sembuh setelah pernah diajak anak kami itu untuk menghadiri KKR di gereja kita beberapa tahun yang lampau. Puji TUHAN !

Saudara, TUHAN masih bekerja dengan dahsyat, sampai saat ini. dan secara berkala DIA datang mencari kita untuk memberikan berkat. Berkat itu bisa datang lewat apa saja, termasuk acara KKR yang diadakan di gereja kita. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Jamahan-NYA datang. Oleh sebab itu, janganlah tolak hadirat-NYA, atau berusaha menghindar karena takut. Di dalam kitab Kejadian, ada cerita tentang Adam yang bersembunyi setelah berbuat dosa. Tetapi BAPA dengan kasih-NYA memanggil Adam kembali, bahkan memberikan keselamatan kekal kepada Adam. Luar biasa Kasih TUHAN kepada kita. Bilamana IA hadir, selalu IA hadir dengan Kuasa dan Berkat luar biasa. Berbahagialah kita yang dipilih-NYA dan dilayakkan untuk menerima semuanya ini. 

 

Hadirat-MU, hadirat-MU sungguh indah

Hadirat-MU, hadirat-MU, sungguh mulia 

Kurindukan selalu di hidupku

Diam selalu di dalam hadirat-MU

 

Ary dan Ester Handoko

Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya :"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN !" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh ALLAH berbuat yang kurang patut

Ayub 1 : 20-22

Saudara yang terkasih ;

Pembacaan Alkitab tahunan gereja kita, hari-hari ini memasuki pembacaan kitab Ayub. Sebuah kitab yang luar biasa, ceritanya begitu indah, bahkan anak kami yang terkecil terpesona melihat keindahan cerita Ayub ini. Dia mengatakan kekagumannya dengan perkataan” Ayub hebat yaa… dia tetap tegar. Kalau orang lain pasti sudah jadi gila, atau bahkan bunuh diri saking setressnya. Lhaa, dia ini kok ya masih bisa bilang : puji TUHAN!.... Ckckckkck….” Dan cetusan kalimat kekagumannya ini, sebenarnya juga adalah kekaguman kita semua. Siapa yang tidak tercengang melihat iman Ayub? 4 anak buahnya datang silih berganti, nyaris tanpa jeda, memberitahukan kabar-kabar celaka..tetapi dia tidak menjadi gila. Dia tidak kehilangan kesadaran atau pingsan. Dia juga tidak teriak-teriak histeris. Yang ia lakukan cuma : berdiri, mengoyak jubah, mencukur rambut, dan sujud menyembah ALLAH, seraya berkata : “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah Nama TUHAN !” 

Saudara, penderitaan Ayub belum berhenti disitu saja. Setelah itu dia ditimpa barah yang menyakitkan dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Mungkin barah itu selain perih, bernanah, juga gatal tak terperikan. Makanya sampai ia mengambil potongan beling dan menggaruk-garuk sekujur tubuhnya. Mana ada penderitaan sehebat yang ditimpakan kepada Ayub? TUHAN sering membuat keadaan menjadi ekstrim, tidak teratasi seperti ini. Walaupun tidak separah apa yang dialami Ayub, keadaan banyak anak TUHAN juga terkadang dalam posisi yang tidak menyenangkan. Ada banyak masalah timbul, tanpa kita tahu apa penyebabnya. Dia ada begitu saja, datang tanpa permisi, dan mengganggu kenyamanan hari-hari kita. Lewat kisah Ayub ini TUHAN ingin mengajarkan suatu hal yang sangat sederhana : disaat keadaan nampaknya tak terkendali, masihkah kita percaya bahwa ALLAH sedang mengontrol semuanya? Bahwa DIA tidak pernah meninggalkan kita? Bahwa semuanya itu terjadi atas seijin-NYA? Dan yang terpenting : masihkah kita bisa mengucap syukur dan berkata “TUHAN BAIK” lewat segala masalah yang ada? Kalau Ayub bisa, mengapa kita tidak?

Saudara, sadarilah bahwa : saat kita mengucap syukur dan berkata ‘Terpujilah TUHAN’ di atas masalah kita, itulah saat dimana segenap malaikat bersorak melihat kemenangan TUHAN dan iblis terhenyak dalam kekalahan karena tak sanggup menggoyahkan iman kita ! 

Semudah membalikkan keadaan Ayub yang terhina 

menjadi bertambah kaya 2 kali lipat dari sebelumnya, 

semudah itu pula TUHAN sanggup membalikkan keadaan kita saat ini…

 

Ary dan Ester Handoko

Yabes berseru kepada ALLAH Israel, katanya :"Kiranya ENGKAU memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-MU menyertai aku, dan melindungi aku daripada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan ALLAH mengabulkan permintaannya itu

I Tawarikh 4:10

Saudara yang terkasih ;

Hari ini untuk menutup kebaktian pagi dan sore hari, pendoa syafaat menyanyikan lagu Doa Yabes. Sebuah doa yang sangat terkenal, yang diucapkan oleh seseorang yang begitu yakin bahwa TUHANnya pasti akan memberkati dia sesuai dengan apa yang ia doakan. Mungkin sebagian orang berpendapat, kok sepertinya dia terlalu berani mengucapkan doa yang tampaknya begitu ‘selfish’, atau mementingkan diri sendiri. Apakah TUHAN mau menerima doa seperti itu ? Sepertinya itu adalah doa untuk memperkaya diri sendiri. Doa meminta kesehatan selama hidup dikandung badan. Bagaimana mungkin berani berdoa seperti itu? Apakah TUHAN tidak marah? Jawabannya tersedia langsung pada ayat di atas :”…..dan ALLAH mengabulkan permintaannya itu”. Rupanya doa semacam itu sama sekali tidak salah, bahkan ditulis lengkap di dalam Alkitab. Doa yang dinaikkan dengan penuh iman dan kepercayaan, diterima ALLAH dan dikabulkan. Tentu saja perlu diingat bahwa orang yang berdoa harus percaya sepenuhnya bahwa doanya pasti dikabulkan. Sebab ada juga ayat yang berbunyi, jangan ragu-ragu bila berdoa atau kita tidak akan menerima apapun dari hasil doa itu.

Saudara, milikilah iman keberanian meminta kepada TUHAN seperti yang Yabes panjatkan dalam doanya. Tidak ada hal yang terlalu kecil atau terlalu besar untuk diminta kepada TUHAN. Dan bila kita panjatkan doa kita dengan dasar hati beriman penuh kepada DIA, percayalah bahwa kita pasti akan menerimanya, jika tidak, DIA akan memberikan jawaban doa yang LEBIH BAIK dari permintaan Saudara. AMIN ! 

 

Ary dan Ester Handoko