Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana

Mazmur 90 : 12

Saudara yang terkasih ;

Seorang teman kami, dia pendeta senior yang sudah cukup berumur, baru-baru ini meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Beberapa orang yang dekat dengannya bercerita tentang apa yang ia lakukan disaat-saat paling akhir sebelum ia meninggal. Ia memiliki sebuah sekolah Alkitab yang cukup besar di kotanya, dan di malam terakhir itu, dia sempat berjalan-jalan mengitari sekolah Alkitab yang ia dirikan itu. Dia lihat satu persatu semua sudut-sudutnya, dia cermati dan perhatikan dengan diam. Baru setelah ia puas mengelilinginya, ia balik ke rumahnya dan beristirahat. Dan di malam itu juga, ia berpulang ke rumah BAPA. Di sekolah Alkitab itu, telah banyak tercetak hamba-hamba TUHAN yang tersebar di segala penjuru tanah air. Itulah persembahan terbaik yang pendeta senior itu berikan kepada TUHAN disaat ia bertemu dengan-NYA, yaitu jiwa-jiwa pendeta-pendeta muda yang menyerahkan diri sepenuhnya untuk melayani TUHAN lewat sekolah Alkitab yang ia dirikan. 

Saudara, jika suatu saat kelak tiba giliran kita dipanggil pulang ke Surga, persembahan apakah yang kira-kira dapat kita bawa di hadapan-NYA? Apakah DIA berkenan melihat jalan hidup kita? Apakah TUHAN disenangkan dengan apa yang kita perbuat? Adakah kita mengisi hari-hari selama kita berkesempatan hidup di dunia ini dengan melayani dan mengasihi-NYA? Sudahkah kita lakukan yang terbaik untuk-NYA? Adakah segenap persembahan kita sudah berkenan kepada-NYA? 

 

Ajarku menghitung hari-hari

Bentuk dan sempurnakan hidupku

Ajar ku hidup dalam kesetiaan-MU

YESUS kunanti kedatangan-MU

 

Ary dan Ester Handoko

supaya setiap orang yang percaya kepada-NYA beroleh hidup yang kekal

Yohanes 3 : 15 

Saudara yang terkasih ;

Sekarang pengurusan surat-surat yang berhubungan dengan Pemerintah, semakin mudah. Segala macam sistem birokrasi yang berbelit dan menyita banyak waktu serta duit telah mulai dipangkas. Sebagai contoh, pengurusan paspor yang barusan kami lakukan, jauh lebih mudah daripada dahulu. Hanya membawa kelengkapan surat yang dibutuhkan, dicek, bila sudah lengkap bisa langsung foto, lalu membayar administrasi di segala bank, dan seminggu kemudian paspor sudah jadi. Harusnya memang begitu pelayanan Pemerintah kepada warga yang juga telah dengan tertib melaksanakan kewajibannya untuk membayar pajak. Birokrasi yang semakin mudah, menunjukkan Pemerintahan yang semakin lama semakin tertata dengan baik. 

Saudara, demikian juga saat kita mendaftarkan diri untuk menjadi anggota kerajaan Surga. Yang benar adalah, tidak ada birokrasi atau aturan yang mbulet dan sepertinya tidak masuk akal. Yang katanya kalau tidak melakukan hal ini dan itu tidak selamat. Jika kita yakin berada pada jalur yang benar, yakin dan beriman bahwa kita kenal dengan akrab Pemilik Kerajaan Surga, soal pergi kesana tentunya tidak sulit. Sama persis seperti yang Alkitab katakan bahwa: percaya saja kepada YESUS, dan kita akan beroleh hidup yang kekal. Semudah itukah? Ya, semudah itu. Sesimple itu. Dan sepasti itu. Hanya percaya kepada-NYA, tetap pegang teguh iman percaya kita akan YESUS, maka jaminan hidup kekal sudah kita miliki. Terpujilah Nama-NYA, selama-lamanya !

"Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan Anak-NYA yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-NYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" Yohanes 3 : 16     

 

YESUS KAU anug’rah terindah dalam hidupku,

KAU sungguh berarti di setiap jalanku,

Anug’rah-MU selalu mempesonaku,

YESUS KAU terbaik, YESUS KAU termanis di dalam hidupku….

 

Ary dan Ester Handoko

Dengan segenap kemampuanku aku telah mengadakan persediaan untuk rumah ALLAHku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam. Lagipula karena cintaku kepada rumah ALLAHku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah ALLAHku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri tiga ribu talenta emas dari emas Ofir dan tujuh ribu talenta perak murni untuk menyalut dinding ruangan, yakni emas untuk barang-barang meas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?

I Tawarikh 29 : 2 - 5 

Saudara yang terkasih ;

Kita semua dengar tentang berita yang mengagetkan akhir-akhir ini. Sebuah travel biro menggelapkan dana dari rakyat yang jumlahnya mencapai hampir berbilang trilyun. Sungguh hal yang mencengangkan sekaligus memprihatinkan, sebab bagaimana mungkin mereka seperti kehilangan hati nurani dan tidak mempedulikan kepentingan orang banyak, memakainya untuk kepentingan pribadi dan bermewah-mewah. Padahal itu bukan miliknya pribadi. Padahal itu adalah dana dari masyarakat untuk pergi beribadah. 

Hal ini sangat bertolak belakang dengan kisah yang diceritakan di dalam kitab I Tawarikh, tentang raja Daud dan persembahannya. Dengan kerinduan yang luar biasa akan rumah ALLAH, dia mengumpulkan dari mana saja begitu banyak persembahan untuk pembangunan Bait ALLAH. Dan itupun masih kurang menurutnya, sehingga ia juga mempersembahkan harta miliknya pribadi untuk ditambahkan ke bahan-bahan indah-indah yang sudah sedemikian banyak itu ! Dia juga mengajak seluruh bangsa Israel untuk ikut berbagi dalam proyek ini, sehingga bangsa inipun dengan sukacita mengumpulkan harta mereka untuk dipersembahkan kepada TUHAN. Di akhir perikop ini, tertulis demikian,” Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN, juga raja Daud sangat bersukacita.” (I Tawarikh 29 : 9). 

Saudara, kiranya apa yang dilakukan raja Daud pada waktu itu menjadi teladan bagi kita. Sepanjang hidupnya, ia menjadi berkat bagi sekeliling dengan apa yang ia miliki. Dia sadar bahwa semua yang ia miliki itu hanyalah titipan dari TUHAN yang Maha Kuasa. Dia tidak berhak menggunakannya semaunya sendiri saja. Jangankan milik orang lain, miliknya sendiri pun, ia pergunakan dengan amat bijaksana, yaitu dipersembahkannya kepada TUHAN. 

Sesungguhnya, semua harta yang kita miliki, bahkan termasuk nyawa kita,  adalah titipan dari Yang Kuasa…… 

 

Dengan apa kan kubalas segala kebaikan-MU

Segenap hidupku menyembah-MU YESUS

Ku bersyukur pada-MU

S’lamanya….

 

Ary dan Ester Handoko

Jika kita mengaku dosa kita, maka IA adalah setia dan adil, sehingga IA akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan

I Yohanes 1 : 9

Saudara yang terkasih ;

Seringkali kami menjumpai orang yang tidak mau atau enggan untuk memeriksakan kesehatan ke posyandu usila yang ada di gereja. Bila ditanya mengapa, dengan senyum-senyum biasanya mereka akan berkata : “Ah saya sehat-sehat saja kok. Lagian nanti kalo dicek dan ketauan sakit apa malah kepikiran ….. “ Suatu ungkapan hati yang jujur, tetapi keliru. Justru dengan tahu sakitnya, maka kita bisa mulai berupaya untuk mengobatinya supaya tidak berkelanjutan menjadi semakin parah. 

Saudara, begitu pula banyak orang enggan datang ke gereja, karena katanya,”Saya masih banyak salah, masih penuh dengan dosa.” Padahal justru YESUS datang ke dunia ini untuk mencari orang berdosa, bukan mencari orang yang suci. DIA bersedia untuk mengampuni serta menanggung dosa kita di atas kayu salib, serta memulihkan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah : datang kepada-NYA, mengakui segala dosa, sekaligus menyepakati cara-NYA mengatasi dosa kita. Di dalam YESUS, ALLAH menebus dosa kita sekali, untuk selama-lamanya. Setelah itu, dengan mengingat terus akan anugerah-NYA, kita diajarkan untuk hidup dalam kesalehan.

 

Ku datang TUHAN baharui hidupku

Dalam anugerah ku datang pada-MU

Ku tau TUHAN segnap kelemahan-MU

Kan dihapuskan oleh kuasa kasih-MU….

 

Ary dan Ester Handoko

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu

Matius 5 : 14 - 15 

Saudara yang terkasih ;

Satu kesempatan dalam minggu lalu kami pergi pelayanan ke Kediri. Ketika malam hari mengitari kota sambil mencari makan malam, kami melewati  sungai Brantas yang besar. Di situ terlihat ada 2 buah jembatan, yang pertama adalah jembatan lama, yang saat itu dipakai. Beberapa puluh meter di sampingnya ada sebuah jembatan lain yang baru setengah terbangun, dan tampaknya tidak dilanjutkan lagi. Kata tuan rumah, itu seharusnya adalah jembatan yang baru untuk menggantikan jembatan lama yang sebenarnya sudah tidak kuat lagi karena sudah tua (dan oleh karena itu hanya boleh dilewati di hari Sabtu dan Minggu saja). Jembatan baru itu tidak dilanjutkan karena dananya dikorupsi oleh pemerintah setempat. Dan nampaknya akan dibiarkan mangkrak. Karena kesulitan ini, maka hari-hari lain selain Sabtu dan Minggu penduduk Kediri harus memilih jalan memutar yang lebih jauh, karena kasus jembatan yang tak kunjung selesainya ini.

Saudara, sebagai warga negara Indonesia, kita punya banyak kesempatan untuk berdoa dan memajukan negara ini. Dalam pelbagai bidang. Jadilah warga negara yang baik, yang bisa menyumbang suatu manfaat guna kemajuan bangsa ini. Contoh kasus jembatan mangkrak di atas bukanlah suatu contoh yang baik. Karena mementingkan diri sendiri dan ingin memperkaya diri, segala cara pun digunakan, sampai korupsi pun juga dilakukan pejabat setempat. Akibatnya, rakyat satu kota itu dirugikan besar-besaran. 

Biarlah kita bisa menjadi pelita yang menyala dan menjadi berkat bagi sekeliling kita. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” Matius 5 : 16

 

Ary dan Ester Handoko

Page 1 of 18